Exgawillsurvive’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pengolahan KOPI

PENGOLAHAN KOPI

Biji kopi yang sudah siap diperdagangkan adalah berupa biji kopi kering yang sudah terlepas dari daging buah, kulit tanduk dan kulit arinya, butiran biji kopi yang emikian ini disebut kopi beras (coffca beans) atau market koffie. Kopi beras berasal dari buah kopi basah yang telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan. Secara garis besar dan berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah men.iadi kopi beras, yaitu yang disebut pengolahan buah kopi cara basah dan cara kering. Pengolahan buah kopi sccara basah biasa disebut W.I..B. (West lndische Bereiding), sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut O.I.B (Ost Indische Bereiding). Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut diatas adalah pada cara kering pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong), sedangkan cara basah pengupasan daging buah dilakukan sewaktu masih basah.

Metode Pengolahan Kering

Metode ini sangat sederhana dan sering digunakan untuk kopi robusta dan juga 90 % kopi arabika di Brazil, buah kopi yang telah dipanen segera dikeringkan terutama buah yang telah matang. Pegeringan buah kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

a. Pengeringan Alami

Pengeringan alami yaitu pengeringan dengan menggunakan sinar matahari, caranya sangat sederhana tidak memerlukan peralatan dan biaya yang besar tetapi memerlukan tempat pengeringan yang luas dan waktu pengeringan yang lama karena buah kopi mengandung gula dan pektin. Pengeringan biasanya dilakukan di daerah yang bersih, kering dan permukaan lantai yang rata, dapat berupa lantai plester semen atau tanah telanjang yang telah diratakan dan dibersihkan. Ketebalan pengeringan 30-40 mm, terutama pada awal kegiatan pengeringan untuk menghindari terjadinya proses fermentasi, Panas yang timbul pada proses ini akan mengakibatkan perubahan warna dan buah menjadi masak.

Pada awal pengeringan buah kopi yang masih basah harus sering dibalik dengan Blat penggaruk. Jenis mikroorganisme yang dapat berkembang biak pada kulit buah (exocarp) terutama jamur (fusarium sp, colletotrichum coffeanum) pada permukaan buah kopi yang terlalu kering (Aspergilus niger, penicillium sp, Rhizopus, sp) beberapa jenis ragi dan bakteri juga dapat berkembang. Lamanya proses pengeringan tergantung pada cuaca, ukuran buah kopi, tingkat kematangan dan kadar air dala,m buah kopi, biasanya proses pengeringan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 minggu. Setelah proses pengeringan Kadar air akan menjadi sekitar 12 %.

b. Pengeringan Buatan (Artificial Drying)

Keuntungan pengeringan buatan,dapat menghemat biaya dan juga tenaga kerja hal yang perlu diperhatikanadalah pengaturan suhunya. Menurut Roelofsen, pengeringan sebaiknya padasuhu rendah yaitu 55°C akan menghasilkan buah kopi yang bewarna merah dantidak terlalu keras. Untuk buah kopi kering dengan KA rendah dikeringkan dengansuhu tidak terlalu tinggi sehingga tidak akan terjadi perubahan rasa. Peralatan pengeringan yang biasa digunakan : mesin pengering statik dengan alat penggaruk mekanik, mesin pengering dari drum yang berputar, mesin pengering vertikal.

Metode Pengolahan Basah

Proses Metode Pengolahan basah meliputi ; penerimaan, pulping, Klasifikasi,
fermentasi, pencucian, pengeringan, Pengawetan dan penyimpanan

a. Penerimaan
Hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke tempat pemerosesan untuk menghindari pemanasan langsung yang dapat menyebabkan kerusakan (seperti : perubahan warna buah, buah kopi menjadi busuk).
Hasil panen dimasukkan kedalam tangki penerima yang dilengkapi dengan air untuk memindahkan buah kopi yang mengambang (buah kopi kering di pohon dan terkena penyakit (Antestatia, stephanoderes) dan biasanya diproses dengan pengolahan kering. Sedangkan buah kopi yang tidak mengambang (non floating) dipindahkan menuju bagian peniecah (pulper).

b. Pulping
Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari kulit terluar dan mesocarp (bagian daging), hasilnya pulp. Prinsip kerjanya adalah melepaskan exocarp dan mesocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air mengalir. Proses ini menghasilkan kopi hijau kering dengan jenis yang berbeda-beda. Macammacam alat pulper yang sering digunakan : Disc Pulper (cakram pemecah), Drum pulper, Raung Pulper, Roller pulper dan Vis pulper. Untuk di Indonesia yang sering digunakan adalah Vis Pulper dan Raung Pulper. Perbedaan pokok kedua alat ini adalah kalai Vis pulper hanya berfungsi sebagai pengupas kulit saja, sehingga hasilnya harus difermentasi dan dicuci lagi. Sedangkan raung pulper berfungsi sebagai pencuci sehingga kopi yang keluar dari mesin ini tidak perlu difermentasi dan dicuci lagi tetapi masuk ke tahap pengeringan.

c. Fermentasi
Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada proses pencucian akan mudah terlepas (terpisah) sehingga mempermudah proses pengeringan. Hidrolisis pektin disebabkan, oleh pektihase yang terdapat didalam buah atau reaksinya bias dipercepat dengan bantuan jasad renik. Proses fermentasi ini dapat terjadi, dengan bantuan jasad renik (Saccharomyces) yang disebut dengan proses peragian dan pemeraman. Biji kopi yang keluar dari mesin pulper dialirkan lewat saluran sebelum masuk bak fementasi.

Selama dalam pengaliran lewat saluran ini dapat dinamakan proses pencucian pendahuluan. Di dalam pencucian pendahuluan ini biji kopi yang berat (bernas) dapat dipisahkan dari sisa-sisa daging buah yang terbawa, lapisan lendir, biji-biji yang hampa karena bagian ini terapung di atas aliran air sehingga mudah dipisahkan.

Pengolahan kopi secara basah ini terbagi 3 cara proses fermentasinya :

1.Pengolahan cara basah tanpa fermentasi Biji kopi yang setelah melalui pencucian pendahuluan dapat langsung dikeringkan.

2.Pengolahan cara basah dengan fermentasi kering Biji kopi setelah pencucian pendahuluan lalu digundukan dalam bentuk gunungan kecil (kerucut) yang ditutup karung goni. Didalam gundukan itu segera terjadi proses fermentasi alami. Agar supaya proses fermentasi berlangsung secara merata, maka perlu dilakukan pengadukan dan pengundukan kembali sampai proses fermentasi dianggap selesai yaitu bila lapisan lendir mudah terlepas.

3.Pengolahan cara basah dengan fermentasi basah Setelah biji tersebut melewati proses pencucian pendahuluan segera ditimbun dan direndam dalam bak fermentasi. Bak fermentasi ini terbuat dari bak plester semen dengan alas miring. Ditengah-tengah dasar dibuat saluran dan ditutup dengan plat yang beriubang-lubang. Proses fermentasi di dalam bak-bak fermentasi terrsebut dilakukan bertingkat tingkat serta diselingi oleh pergantian air rendaman. Pada tingkat petama perendaman dilakukan selama 10 jam, Selama proses fermentasi ini dengan bantuan kegiatan jasad renik, terjadi pemecahan komponen lapisan lendir tersebut, maka akan terlepas dari permukaan kulit tanduk biji kopi.

Proses fermentasi akan berlangsung selama lebih kurang dari 1,5 sampai 4,5 hari tergantung pada keadaan iklim dan daerahnya. Proses fermentasi yang terlalu lama akan menghasilkan kopi beras yang berbau apek disebabkan oleh terjadinya pemecahan komponen isi putih lembaga.

Perubahan yang Terjadi selama Proses Fermentasi

1. Pemecahan Komponen mucilage
Bagian yang tepenting dari lapisan berlendir (getah) ini adalah komponen protopektin yaitu suatu “insoluble complex” tempat terjadinya meta cellular lactice dari daging buah. Material inilah yang terpecah dalam proses fementasi. Ada yang berpendapat bahwa tejadinya pemecahan getah itu adalah sebagai akibat bekerjanya suatu enzim yang terdapat dalam buah kopi. Enzim ini termasuk sejenis katalase yang akan memecah protopektin didalam buah kopi.

Kondisi fermentasi dengan pH 5.5-6.0, pemecahan getah akan berjalan cukup cepat. Apabila pH diturunkan menjadi ,4.0 maka kecepatan pemecahan akan menjadi 3 kali lebih cepat dan apabila pH 3.65 pemecahan akan menjadi dua kali lebih cepat. Dengan penambahan larutan penyangga fosfat sitrat maka kondisi pH akan dapat stabilbagi aktivitas protopektinase.

Dalam proses ferrmentasi dapat ditambahkan 0.025 persen enzim pektinase yang dihasilkan dari isolasi sejenis kacang. Dengan penambahan 0..025 persen enzim pektinase maka fementasi dapat berlangsung selama 5 sampai 10 jam dengan menaikkan suhu sedikit. Sedangkan bagi proses fermentasi yang alami diperlukanwaktu sekitar 36 jam. Pada waktu buah kopi tersebut mengalami pulping sebagian besar enzym tersebut terpisahkan dari kulit dan daging buah, akan tetapi sebagian kecil masih tertinggal dalam .bagian sari buah kopi.

2. Pemecahan Gula
Sukrosa merupakan komponen penting dalam daging buah kopi. Kadar gula akan meningkat dengan cepat selama proses pematangan buah yang dapat dikenal dengan adanya rasa manis.

Gula adalah senyawaan yang larut dalam air, oleh karena itu dengan adanya
proses pencucian lebih dari 15 menit akan banyak menyebabkan terjadinya
banyak kehilangan konsentrasinya. Proses difusi gula dari biji melalui parchment ke daging buah yang berjalan sangat lambat. Proses ini terjadi sewaktu perendaman dalam bak pengumpul dan pemisahan buah. Oleh karena itu kadar gula dalam daging biji akan mempengaruhi konsentrasi gula di dalam getah beberapa jam setelah fermentasi.

Sebagai hasil proses pemecahan gula adalah asam laktat dan asam asetatn dengan kadar asam laktat yang lebih besar. Asam-asam lain yang dihasilkan dari proses fert)entasi ini adalah etanol, asam butirat dan propionat. Asam lain akan memberikan onion flavor.

3. Perubahan Warna Kulit
Biji kopi yang telah terpisahkan dari pulp dan parchment maka kulit ari akan bewarna coklat. Juga jaringan daging biji akan bewarna sedikit kecoklatan yang tadinya bewarna abu-abu ata.u abu-abu kebiruan. Proses “browning” ini terjadi akibat oksidasi polifenol. Terjadinya warna kecoklatan yang kurang menarik ini dapat dicegah dalam proses fermentasi melalui pemakaian air pencucian yang bersifat alkalis.

d. Pencucian
Pencucian secara manual dilakukan pada biji kopi dari bak fementasi dialirkan dengan air melalui saluran dalam bak pencucian yang segera diaduk dengan tangan atau di injak-injak dengan kaki. Selama proses ini, air di dalam bak dibiarkan terus mengalir keluar dengan membawa bagian-bagian yang terapung beupa sisa-sisa lapisan lendir yang terlepas.

Pencucian biji dengan mesin pencucidilakukan dengan memasukkan biji kopi
tersebut kedalam suatu mesin pengaduk yang berputar pada sumbu horizontal dan mendorong biji kopi dengan air mengalir. Pengaduk mekanik ini akan memisahkan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang telah terpisah ini akan terbuang lewat aliran air yang seterusnya dibuang.

e. Pengeringan
Pengeringan pendahuluan kopi parchment basah, kadar air berkurang dari 60 menjadi 53%. Sebagai alternatif kopi dapat dikeringkan dengan sinar matahari 2 atau 3 hari dan sering diaduk, Kadar air dapat mencapai 45 %. Pengeringan kopi Parchment dilanjutkan, dilakukan pada sinar matahari hingga kadar air mencapai 11 % yang pada akhirnya dapat menjaga stabilitas penyimpanan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan menggunakan baki dengan penutupnya yang dapat digunakan sepanjang hari. Rata-rata pengeringan antara 10-15 hari. Pengeringan buatan (suhu tidak lebih dari 55°C) juga banyak digunakansejak pengeringan kopi alami menjadi lebih sulit dilakukan pada perkebunan yang lebih luas.

f. Curing
Proses selanjutnya baik kopi yang diproses secara kering maupun basah ialah curing yang bertujuan untuk menjaga penampilan sehingga baik untuk diekspor maupun diolah kembali. Tahapan proses curing ini meliputi :

- Pengeringan ulang
Kopi dari hasil pengolahan basah maupun kering harus dipastikan Kadar Airnya 11 %. Apabila tidak tercapai harus segera dilakukan pengeringan ulang, hal ini sangat penting dalam proses penyimpanan.

- Pembersihan (cleaning)
Buah kopi parchment kering yang dikeringkan secara alami banyak mengandung kotoran seperti kerikil, potongan besi, dan benda asing lainnya. Kotoran tersebut harus dihilangkan. Pembersihan dapat dilakukan dengan mengeluarkan kotoran dengan saringan untuk memindahkan kotoran yang berukuran besar, pemisah magnetik untuk memindahkan potongan baja, pemindahan debu dengan bantuanhembusan angin.

- Hulling.
Didalam mesin huller, maka biji kopi itu dihimpit dan diremas, dengan demikian kulit tanduk dan kulit arinya akan terlepas. Pecahan kulit tanduk dan kulit ari setelah keluar dari mesin huller tertiup dan terpisah dari biji kopi beras yang akan berjatuhan kebawah dan masuk ke dalam wadah.

g. Penyimpanan
Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama. Biji kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %. Pada kondisi tersebut pertumbuhan jamur (Aspergilus niger, A. oucharaceous dan Rhizopus sp) akan minimal. Di Indonesia kopi yang sudah di klasifikasi mutunya disimpan didalam karung goni dan dijahit zigzag mulutnya dengan tali goni selanjutnya disimpan didalam gudang penyimpanan.

Syarat gudang penyimpanan kopi :
1. gudang mempunyai ventilasi yang cukup.
2. Suhu gudang optimum 20°C-25°C.
3. Gudang harus bersih, bebas dari hama penyakit serta bau asing.
4. Karung ditumpuk di lantai yang diben alas kayu setinggi 10 cm.

h. Standar Mutu Kopi

1. Pegolahan kering
- Kadar Air maksimum 13 % (bobot/bobot)
- Kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-benda asing lainnya maksimum 0-5 % (bobot/bobot).
- Bebas dari serangga hidup.
- Bebas dari biji yang berrbau busuk, berbau kapang dan bulukan.
- Biji tidak lolos ayakan ukuran 3 mm x 3mm (8 mesh) dengan maksimum lolos 1 % (bobot/bobot).
- Untuk bisa disebut biji ukuran beger, harus memenuhi persyaratan tidak lolos ukuran (3,6 mesh) dengan maksimum lolos 1 % (bobot/bobot).

2. Pengolahan Basah
- Kadar air maksimum 12% (bobot/bobot)
- Kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah, dan berupa kotoran lainnya frlaksimum 0.5 % (bobot/bobot).
- Bebas dari serangga hidup
- Bebas dari biji yang berbau busuk, berbau kapang dan bulukan.
- Untuk robusta, dibedakan ukuran besar (L), sedang (M) dan kecil (S).
- Untuk jenis bukan robusta ukuran biji tidak dipersyaratkan.
(Ridwansyah/THP FP USU)

March 30, 2008 Posted by exgawillsurvive | Tanaman Kopi | | No Comments Yet

Hama Kopi

Melawan Hama Kopi Tanpa Pestisida

10 June 2003

Syamsu merasa lega karena panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya cukup beragam


Syamsu merasa lega karena panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya cukup beragam. Suka citanya semakin bertambah saat tahu banyak petani lainnya gagal memetik hasil yang memuaskan. Akibat serangan hama, produksi kopi mereka anjlok hingga tinggal 30 persennya.

Keberhasilan Syamsu berawal dari konsultasinya dengan beberapa peneliti di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Jember. Syamsu mengeluh karena panen kopinya mengenaskan akibat serangan hama dengan tingkat produksi yang melorot tajam. Beberapa hama seperti hama embug, jamur akar, kutu hijau, kutu putih, penggerek buah kopi (PBKo), ramai-ramai mengeroyok tanaman kopinya.

Menurut Syamsu, hama embug dan jamur akar menyerang perakaran tanaman kopi dengan cara memakan akar hingga habis dan menyebabkan kematian bagi tanaman. Sedangkan hama kutu menyerang dompolan buah, bunga, pucuk-pucuk batang, serta daun.

Hama tersebut menghisap cairan pada bagian tanaman yang diserang sehingga buah dan batang jadi rontok. Sementara itu PBKo menyerang buah kopi dengan cara melobangi buah hingga membuatnya jadi kopong.

Efek Samping

Selama ini, Syamsu menggunakan berbagai jenis pestisida untuk mengendalikan aneka hama tersebut. Selain harganya mahal, ternyata pestisida menimbulkan berbagai efek samping seperti mematikan tanaman lainnya. Di samping itu pestisida juga meninggalkan residu kimia yang mengakibatkan kualitas kopi rendah.

Apa yang dialami Syamsu, menurut peneliti PPKKI, Soekadar Wiryadiputra, merupakan kondisi umum yang dialami petani kopi di Indonesia. Bahkan sejak 1982, invasi PBKo melanda daerah penghasil utama kopi Indonesia seperti Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Di Bengkulu tingkat serangan hama tersebut mencapai 39 persen, sedangkan di Lampung dan Sumatera Selatan masing-masing 40 persen. Pada 1990 di Lampung dan Jawa Timur, PBKo membuat 65 persen buah kopi yang ditanam berlobang dan kopong.

Akibat serangan hama, secara kualitas dan kuantitas produksi kopi jelas mengalami penurunan. “Tingkat serangan 60 persen akan menyebabkan produksi kopi tinggal 30 persennya dengan kualitas yang jelek,” ujar Soekadar.

Padahal, organisasi kopi internasional (ICO) sejak Oktober 2002 menerapkan standar mutu yang lebih ketat. Menurut aturan IOC, hanya kopi grade-5 ke bawah yang bisa diekspor dan tanpa kandungan senyawa okratoksin-A yang merupakan efek samping pestisida.

Oleh karena itu, penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan mendesak untuk diterapkan secara nasional. Setidaknya tiga keuntungan sekaligus yang bisa didapatkan dengan sistem PHT yakni peningkatan produksi, peningkatan mutu, serta penurunan biaya produksi.

Mengenai produksi, rata-rata produksi kopi rakyat saat ini masih rendah yaitu sekitar 430,1 kg/ha/tahun (kopi robusta) dan 553,04 kg/ha/ tahun (kopi arabika). Padahal perkebunan kopi rakyat masih sangat dominan mencapai 1,07 hektare atau sekitar 93 persen dari total areal kebun kopi nasional. Peningkatan tingkat produktivitas kopi rakyat akan berpengaruh besar bagi produksi kopi nasional sekaligus devisa negara.

Sementara dari sisi mutu kenaikan grade kopi akan memberi perbedaan pendapatan bagi petani secara signifikan, ujar E Sulistyowati, kolega Soekadar di PPKKI. Sebagai contoh harga kopi grade-5 dihargai sekitar Rp 5.000 per kg. Bandingkan dengan kopi grade-1 yang dihargai Rp 10.000 per kg. Upaya peningkatan mutu juga berarti menurunkan kadar air kopi hingga 13 persen seperti yang disyaratkan ICO, ujar Sulis.

Sanitasi dan Nabati

Setiap jenis hama atau lebih dikenal dengan organisme pengganggu tanaman (OPT) memerlukan pengendalian secara spesifik, tutur Soekadar. Untuk hama PBKo pengendaliannya dilakukan dengan cara sanitasi dan penggunaan atraktan nabati. Cara sanitasi dilakukan dengan cara petik bubuk, rampasan, dan lelesan untuk memutus siklus hidup hama.

Petik bubuk adalah dengan memanen buah kopi yang masak sejak awal karena serangan PBKo. Sedangkan rampasan dan lelesan adalah memanen buah yang tertinggal di pohon serta yang jatuh dari pohon di akhir masa panen.

Buah-buah kopi tersebut direndam di air panas selama 10 menit untuk membunuh serangga hama di dalam buah. Hanya pengendalian dengan cara ini memerlukan tenaga kerja cukup banyak sehingga kurang efisien.

Cara lainnya dengan menyemprotkan jamur Beauveria bassiana pada hama PBKo. Atraktan nabati tersebut mampu mematikan hama dalam 3-4 hari setelah penyemprotan. Hanya saja agen pengendali hayati tersebut harus segera dikembangkan sebagai bioinsektisida agar petani mudah memperolehnya.

Berikutnya hama yang menyerang seluruh sentra produksi kopi Indonesia adalah nematoda parasit jenis Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Kedua jenis cacing tersebut menyerang akar-akar serabut yang masih muda hingga menyebabkan gejala luka akar (lession).

Akibatnya akar akan membusuk, tanaman jadi kerdil, daun menguning, dan akhirnya tanaman mati. Cacing tersebut sulit dikendalikan karena memiliki tanaman inang yang cukup banyak (sekitar 200 jenis).

Hama tersebut mampu membentuk kista sehingga mampu bertahan di dalam tanah tanaman inang dalam waktu lama. Penyebarannya sangat mudah karena bisa terbawa oleh aliran air, manusia, hewan, alat pertanian, bibit kopi, bahkan sepatu.

Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan menggunakan tanaman antagonis yang juga berfungsi sebagai tanaman rotasi. Jenis tanaman Tagetes patula dan rumput guatemala (Trypsacum laxum) cukup efektif menekan populasi hama.

Pengendalian populasi hama juga bisa dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang dan kulit kopi. Selain itu juga bisa digunakan ekstrak biji dan daun tanaman mimba (Azadirachta indica) sebagai atraktan nabati. Hanya, keefektifan penggunaannya perlu diuji lebih lanjut, ujar Soekadar.

Serangan Kutu Putih

Sementara itu, serangan kutu putih (Planococcus citri) yang mematuk dan mengisap kuncup bunga, bunga dan pentil buah kopi mampu menurunkan produksi hingga 50-75 persen. Hama ini bisa ditekan dengan cara menanam tanaman penaung kopi agar udara di kebun cukup lembab.

Dalam kondisi lembab, agen hayati seperti P. citri dan jamur Emphusa fresenii akan bekerja optimal menekan hama. Selain itu populasi kutu bisa ditekan dengan menggunakan predator kutu loncat (Heteropsylla cubana) yaitu kumbang biru (Curinus coeruleus).

Hama lainnya yang juga sering menyerang tanaman kopi adalah penyakit karat daun yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Serangan jenis hama ini mampu menghancurkan perkebunan hingga produksinya tinggal 25 persen saja.

Hama ini tidak hanya menyerang tanaman kopi di Indonesia namun sudah menjadi musuh petani kopi di seluruh dunia. Hama tersebut meninggalkan jejak berupa gejala bercak kuning jingga pada permukaan bawah daun. Akibatnya daun akan mulai berguguran sehingga produktivitas tanaman jadi rendah.

Pengendalian hama ini dilakukan dengan pengaturan pemangkasan daun, pemupukan, dan pemeliharaan secara tepat. Selain itu juga harus dikembangkan varietas kopi yang tahan terhadap penyakit ini. Menurut Soekadar bisa juga disemprotkan ekstrak daun cengkeh, kemangi, teh hitam, dan mimba untuk menghambat perkembangan jamur patogen itu.

March 30, 2008 Posted by exgawillsurvive | Tanaman Kopi | | No Comments Yet